Pidato singkat tentang kematian oleh Anggun Saputra, UINFAS Bengkulu


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ ، اَشْهَدُ اَنْ لۤا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.




Alhamdulillahi-lladzii hadaana lihadzaa, wama kunna linahtadiya laula an hadanallah, Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa Asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh, La nabiya ba’dah.


  Kehidupan, pasti ada kematian. Kematian merupakan sebuah kepastian yang tidak bisa dinegosiasikan. Allah SWT berfirman yang artinya “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati, dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, Maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan", (QS.Ali Imran: 185).


Perjalanan menuju akhirat adalah suatu perjalanan yang sangat panjang. Banyak aral dan rintangan yang harus kita lalui, dan tentunya memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Kematian menjadi gerbang pertama yang harus kita masuki untuk menuju akhirat. Rasulullah SAW bersabda:


"Tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya di dalam kematian terdapat rasa sakit", (HR Bukhari). 


Pada saat nyawa dicabut, nafas kita akan tersengal, mulut terkunci, anggota badan kita tanpa daya dan pintu taubat pun tertutup. Pada saat itu tidak ada yang bisa menghindarkan kita dari sakaratul maut


 

Komentar